Cari info atau berita lainnya di internet? Ketik dan cari di sini.
Custom Search


Senin, 10 Oktober 2011 - 16:20:57 WIB
Berpikir Positif, Sifat Dasar Otak Manusia
Diposting oleh : administrator
Kategori: Iptek - Dibaca: 549 kali

Bila anda orang yang selalu optimistis dan berpikir positif, semangat hidup tak akan mudah hilang saat mendengar berita buruk. Untungnya ternyata sebagian besar otak manusia secara alamiah memang didesain untuk selalu berpikir positif.

Dalam sebuah penelitian di University College London, para ilmuwan menyimpulkan bahwa 80 persen manusia memiliki otak yang selalu berpikir positif. Hal ini dibuktikan melalui pemindaian otak dengan menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI).

Lewat pemindaian MRI adanya pikiran positif ditunjukkan oleh peningkatan aktivitas di bagian otak yang disebut frontal lobe. Aktivitas di bagian ini paling tinggi pada orang yang optimistis, sedangkan nilai terendah dimiliki orang yang persimistis dan selalu berpikir negatif.

Sebagai bukti lainnya, para ilmuwan yang dikoordinir oleh Dr Tali Sharot juga melaksanakan eksperimen pada 14 orang partisipan. Pada awal eksperimen, para partisipan diminta menentukan seberapa besar risiko untuk mengalami 80 hal buruk dalam hidupnya termasuk kena kanker kanker dan bercerai.

Dr Sharot lalu memanggil para partisipan satu persatu, lalu memberi tahu risiko sesungguhnya dari 80 hal buruk yang sebelumnya dinilai sendiri oleh masing-masing partisipan. Setelah mendengar besarnya risiko dari sang pakar, partisipan diminta untuk menanggapi.

Tanggapan sebagian besar partisipan menunjukkan sikap optimistis, misalnya jika di awal eksperimen mengatakan risiko kankernya 40 persen, lalu disebutkan oleh para ahli bahwa risiko sebenarnya hanya 30 persen, tanggapannya positif dan langsung percaya. Namun jika di awal eksperimen mengira risikonya hanya 10 persen, partisipan tidak langsung percaya.

"Jika kenyataanya lebih buruk, mereka lebih mempercayai pikiran mereka sendiri. Mereka percaya ada sedikit peningkatan risiko, tetapi tidak banyak," ungkap Dr Sharot yang mempublikasikan temuannya dalam jurnal Nature Neuroscience seperti dikutip dari BBC, Senin (10/10/2011).

Sumber: detikHealth.com


Anda suka artikel/informasi di atas? Bila anda Facebooker klik tombol FB Like di bawah atau
bagikan kepada teman-teman Anda di Google+, Twitter, dan FB lewat tombol share di bawah

               


Komentar :


  Cari info atau berita lainnya di internet? Ketik dan cari di sini.






Isi Komentar :
Nama:
Website
(misal: www.domain.com, tanpa http://)
:
Komentar:
 
  (Masukkan 6 kode diatas)